Kamis, 15 Juni 2017

Dituntut 3 Tahun, Istri Anak Buah Santoso Sesali Perbuatannya Jaktim. Rencananya minggu depan keduanya akan menghadapi putusan.



Istri Ali Kalora, Tini dan istri Basri, Nurmi Usman dituntut 3 tahun penjara. Ali dan Basri adalah anak buah pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Santoso.

"Dituntut 3 tahun (Tini dan Nurmi Usman), kemarin agendanya pledoi," ujar tim kuasa terdakwa, Nurlan saat dihubungi detikcom, Kamis (15/6/2017).

Nurlan mengatakan kedua istri dari kaki tangan Santoso tidak berani melawan suaminya. Dalam pelarian suaminya, mereka hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan suaminya.

Dipanggil untuk jadi pemberontak, pastikan mereka tidak mau kalau tidak dipanggil suaminya. Artinya dipanggil di sini kebutuhan biologis, bukan diajak tindak pidana teroris, di situ sudut pandang kami berbeda," papar Nurlan.

Nurlan mengungkap fakta dalam persidangan, kalau Umi Fadel dan Nurmi Usman hanya sesekali ikut pelarian suaminya. Hal itu juga hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis para suaminya.

"Mereka tidak bisa turun lagi, akhirnya lama di atas. Jadi intinya para suaminya itu mau refreshing, mau seks, maka dipanggil para istrinya. Iya (menyesali perbuatannya), sementara waktu saja karena dipanggil suaminya," pungkas Nurlan.

Sidang keduanya masih bergulir di PN Jaktim. Rencananya minggu depan keduanya akan menghadapi putusan.

Kisah Lisa Asal Sulut, Meraih Mimpi Jadi Dokter Gigi di UGM



Lisa Paputungan siswi SMA 1 Manado, Sulawesi Utara diterima di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Lisa diterima melakukan jalur SNMPTN dan mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Dia akan kuliah gratis selama 8 semester.

Lisa merupaksan siswi berprestasi, namun termasuk golongan kurang mampu. Orangtua Lisa, hanya tinggal ayahnya Isnan Paputungan. Usianya sudah 76 tahun dan menderita prostat sejak lama sehingga menggunakan kateter setiap hari.

Ibu Lisa, Tenti Paputungan sudah meninggal dunia saat dia berusia 8 tahun. Meski sudah lama menikah, Isnan dan Tenti termasuk lama dikaruniai anak. Lisa adalah anak tunggal. Isnan sudah mulai sakit-sakitan. Lisa akhirnya diasuh oleh adik perempuan dari keluarga ibunya.

"Sejak kelas empat SD, ia diasuh bibinya," kata Isnan saat ditemui tim Humas UGM di rumahnya di Desa Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara.

Di rumah yang nampak tidak terawat tersebut, Isnan berkisah, sejak sepeninggal istrinya, ia sudah mulai jatuh sakit karea faktor usia. Namun karena hidup dalam keterbatasan dengan hanya mengandalkan hasil dari kebun kopra, tidaklah cukup untuk mengganti biaya berobat. Ia pun menjual kebun kopra satu satunya itu. Alasan itulah ia kemudian menitipkan Lisa kepada adik iparnya, Masita Paputungan (48). Dia bekerja sebagai guru SMP yang tinggal di desa sebelah.

Masa kecil Lisa dihabiskan dengan hidup menumpang di rumah bibinya, namun karena keadaan Lisa pun tidak bisa berbuat banyak. Sebagai anak piatu, ia mengikuti kehendak keluarganya. Meski Lisa sendiri mengaku merindukan sosok ibunya yang pernah lekat dan pernah mengisi masa kecilnya walau cuma sebentar.


Pendidikan SD dan SMP diselesaikan Lisa di Boltim. Sebagai seorang Guru, Masita selalu mengajarkan pada Lisa tentang pentingnya memanfaatkan waktu belajar. Apalagi Lisa sudah dianggap seperti anak sendiri. Saat itu Masita juga belum dikaruniai anak.
Saat menempuh pendidikan SD dan SMP, Lisa termasuk siswa yang menonjol di kelas. Ia selalu mendapat rangking di sekolah. Hasil nilai ujian akhir cukup bagus hingga bisa diterima melanjutkan sekolah di SMAN 1 Manado.

Jarak antara Boltim dengan Manado sekitar 144 kilometer. Jarak yang jauh itu, Lisa akhirnya tinggal di rumah salah seorang guru SMA yang mengajar di sekolahnya. Sementara untuk biaya hidup dan biaya sekolah, Lisa mendapat beasiswa dari pemerintah lewat program Afirmasi Pendidikan Tinggi bagi putra-putri daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (ADik 3T).

Lisa mengaku, saat mengenyam bangku SMA di Manado tetap belajar dengan tekun karena ia selalu ingat pesan dari bibinya bahwa suatu saat kelak ia akan mampu membahagiakan orang tuanya apabila ia mampu menggapai cita-citanya.


PATHNER PERMAINAN KARTU ONLINE TERBESAR

"Kalau kamu nanti berhasil, kamu yang jaga semua (orangtua)," kata Lisa.

Tidak jarang, Lisa merasa rindu dengan ayahnya yang tinggal sendiri diri di rumah. Ia kahawatir jika ayahnya jatuh sakit yang lebih parah. Terkadang ada perasaan menyesal karena tidak selalu ada di samping ayahnya. Namun kekhawatiran itu ia buang jauh-jauh apalagi di sekitar rumah di Boltim masih ada sanak famili yang selalu menengok ayahnya. "Kadang kalau ingat ayah, saya sedih," katanya.

Selama sekolah di SMAN 1 Manado, Lisa selalu masuk peringkat 10 besar. Ketika ada program masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN, Lisa ikut mendaftar, perjuangan dan doanya terkabul, ia diterima di prodi pendidikan Dokter Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada.

Mengetahui anak semata wayangnya diterima kuliah di UGM, Isnan senang sekaligus sedih, terbayang baginya nantinya ia akan jarang bertemu dengan anaknya yang berada jauh di negeri seberang.

"Saya senang, saya ingatkan agar Lisa selalu tetap bersyukur," kata Isnan seraya menggenggam ujung tongkatnya dengan sedikit gemetar. Lisa makin erat memeluknya. Sang bibi, Masita, nampak sesekali menyeka air mata yang meleleh, terharu melihat ayah dan anak berpelukan di ujung kursi sofa yang sudah lusuh.

Lolos SBMPTN, Bocah 14 Tahun Ini Bermimpi Jadi Ilmuwan Nuklir


PERMAINAN KARTU ONLINE TERBESAR SEASIA

Kamu mungkin masih ingat dengan Musa Izzan, bocah yang pada waktu itu masih berusia 13 tahun turut serta dalam peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun lalu. Nah, ternyata, dia lulus SBMPTN dan diterima di Fakultas MIPA ITB Bandung. Usianya yang kini sudah 14 tahun, tentunya membuat banyak orang bangga.


Namanya muncul pada pengumuman SBMPTN pada Selasa (13/6) lalu. Izan bukan cuma membuat orangtua mereka bangga, tapi juga bikin banyak orang terbengong-bengong. Soalnya, di usia segitu, dia sudah bisa memecahkan soal-soal SBMPTN yang biasanya dipecahkan oleh anak-anak berusia 17-18 tahun. Namanya


Dilansir dari salah satu media nasional, sang ibu, Yanti, mengatakan buah hatinya memang sangat aktif. Saking aktifnya, saat dia kecil suka merusak berbagai macam barang. Dia pun akhirnya memutuskan untuk memeriksakan Izan ke psikolog. Izzan kemudian didiagnosa Autism Spectrum Disorder (ASD).

Izzan memang berbeda dari anak-anak lainnya. Dia kerap bertanya berbagai hal. Suatu hari, ibunya bercerita kepada sebuah media online, Izzan bertanya kenapa Newton bisa menghitung gerak planet. "Saya jawab Newton menghitung dengan rumus Matematika," kata Yanti.

Sejak itu, Izzan sangat berminat di dunia Matematikan dan Sains. Dia pun mengatakan ingin menjadi ilmuan nuklir. Izzan sebenarnya bisa menjadi contoh buat anak-anak muda lainnya.


Izzan yang memiliki ASD tak pernah menyerah dan lelah untuk belajar. Sebentar lagi, Izzan akan berkuliah di ITB, bersama kakaknya yang berbeda 5 tahun dengannya. Sang kakak sebenarnya sudah berkuliah di ITB Bandung sejak 2 tahun lalu.